Cahaya ALLAH tak Pernah Padam

cahaya allahSEJARAH manusia tidak akan pernah kosong dari pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Para penyeru kebaikan senantiasa mendapat tantangan dan halangan dari penyeru kebatilan serta dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan bersikap pragmatis, hidup sekedar mencari kemanfaatan duniawi dan hawa nafsu semata. Demikian yang dialami para Nabi sekaligus menjadi sunnatullah bagi dakwah mereka. Sejak permulaan bergulirnya dakwah Islam Rasulullah sudah mendapat tantangan keras dari kaum Quraisy. Mereka senantiasa memerangi dakwah beliau dan para sahabatnya.

Berbagai penganiayaan ditimpakan kepada Rasul dan para sahabat. Keluarga Yasir disiksa dengan siksaan yang sangat pedih. Abu Bakar pernah dipukuli akibat seruan dakwahnya di hadapan orang banyak di samping Ka’bah hingga wajahnya babak belur. Rasulullah sendiri pernah dilempar dengan kotoran binatang, diludahi dan diperlakukan dengan perlakuan buruk lainnya. Berbagai jenis perlakuan buruk dan siksaan ditimpakan atas kaum Muslim. Semua itu mereka alami hanya karena mereka menyerukan Islam. Akan tetapi semua bentuk penyiksaan dan penganiayaan itu tidak membuat kaum Muslim goyah dan terpalingkan dari keimanan dan dakwah mereka.

Setelah semuanya gagal mereka lantas memboikot Nabi dan kaum Muslim serta Bani Hasyim. Akibatnya kaum Muslim benar-benar merasakan penderitaan yang luar biasa akibat kelaparan yang merajalela dan wabah penyakit yang menyebar di pemukiman mereka. Pemboikotan itu berlangsung selama 3 tahun. Akan tetapi itu semua tetap tidak berpengaruh kepada kaum Muslim bahkan membuat keimanan dan dakwah mereka semakin bertambah kuat. Semua itu dilakukan untuk memalingkan kaum Muslim dari agama mereka. Inilah yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya :

“Orang-orang kafir tidak pernah berhenti memerangi kalian hingga mereka mengembalikan kalian dari agama kalian (pada kekafiran) seandainya mereka mampu” (Q. S. Al Baqarah : 217)
Inilah karakter orang-orang kafir sejak dulu hingga sekarang bahkan sampai kapanpun. Saat ini misalnya, orang-orang kafir Barat berupaya melakukan propaganda negatif terhadap Islam dan kaum Muslim, khususnya para pengemban dakwah. Mereka membuat berbagai pertemuan untuk membahas sebutan yang pantas bagi Muslim yang berpegang teguh dengan agamanya, mulai dari gelar ekstrimis, fundamentalis hingga teroris. Mereka melalui agennya menangkapi, memenjarakan dan menyiksa kaum Muslim dan para pengemban dakwah yang konsisten memperjuangkan tegaknya Islam seperti yang terjadi di Mesir, Arab Saudi, Afghanistan, Philipina, Thailand, bahkan ‘boleh jadi’ di Indonesia. Mereka melakukan boikot/embargo terhadap kaum Muslim di Iraq dan Palestina. Mereka memborbardir Afghanistan hingga ribuan kaum Muslim terbunuh. Mereka pun membiarkan dan bahkan mendukung pembantaian kaum Muslim di berbagai negeri Islam seperti di Iraq, Libanon, Palestina, Filipina, Kashmir dsb, jauh melebihi korban peledakan WTC yang ‘diduga’ didalangi oleh Amerika sendiri.

Alex Jones, seorang pembawa acara talk-show radio dalam keterangan pers mengatakan,”Banyak orang-orang terkemuka yang sangat dihormati telah mengatakan bahwa banyak bukti-bukti menunjukkan bahwa 11 September adalah pekerjaan orang dalam. Ada banyak petunjuk di mana orang harus disadarkan tentang hal ini.” (watch the preview video ‘9/11: The Great Illusion’)

Semua itu mereka lakukan dalam rangka memalingkan kaum Muslim dari agama mereka, sama persis dengan aktivitas kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw dan para sahabat sekitar 14 abad lalu.

Sikap Kaum Muslim

Kaum muslim telah memiliki modal yang luar biasa untuk menghadapi semua tantangan dan halangan dakwah Islam, yaitu modal keimanan. Mereka mengimani tujuan keberadaan mereka di dunia yaitu untuk beribadah kepada Allah. Beriman kepada Allah berarti membenarkan dengan pasti bahwa tidak ada Zat yang patut disembah, tidak ada pembuat hukum yang layak ditaati, tidak ada yang harus ditakuti dan tidak ada yang selalu dirindukan keridloan-Nya selain Allah semata. Ketakutan mereka kepada Allah dan azab-Nya yang sangat pedih mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran mereka kepada manusia dan siksaan mereka. Kenikmatan yang akan mereka peroleh kelak di akhirat lebih mereka cintai dan mereka harapkan daripada secuil kenikmatan yang dijanjikan para thoghut, pembesar kekufuran.

Kaum Muslim harus tetap melaksanakan dakwah sebagaimana Rasulullah dan para sahabat meskipun mereka banyak menghadapi berbagai tekanan, ancaman dan penyiksaan dalam berdakwah. Mereka terus melakukan dakwah tanpa terjebak untuk melakukan kekerasan, karena Rasulullah melarang untuk melakukan hal ini. Meskipun Rasul dan para sahabat mengalami penderitaan yang luar biasa mereka terus bersabar dan tetap berpegang teguh pada syariat-Nya. Hingga dikarenakan penderitaan yang luar biasa tersebut mereka sampai bertanya-tanya kapan pertolongan Allah akan datang? Karena itu Allah menurunkan firman-Nya:

“ Bilakah datangnya pertolongan Allah ? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqarah : 214)

Diantara tantangan yang dihadapi oleh kaum Muslim adalah adanya berbagai propaganda dan penyesatan opini yang dilakukan oleh kaum kafir dan antek-anteknya juga berbagai fitnah, cap buruk, dan sebutan jahat lainnya yang dipaksakan kepada kaum Muslim.

Dalam menghadapi berbagai informasi yang menyesatkan itu kaum Muslim harus berpegang teguh pada tata cara penerimaan berita yang telah ditunjukkan oleh Allah dalam firman-Nya :

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang pada kalian orang fasik dengan membawa berita maka periksalah berita itu dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatanmu”. (AlHujurat : 6)

Berkaitan dengan ayat ini kita memahami bahwa terhadap berita yang dibawa oleh orang Muslim yang fasik saja kita diharuskan melakukan ‘tabayyun’ (klarifikasi). Apalagi jika berita itu datang dari orang kafir yang memusuhi kita, yang jelas-jelas memiliki itikad dan maksud jahat untuk menghancurkan kita. Karena itu terhadap berita yang datang dari kaum kafir, tabayyun pun sebetulnya tidak relevan. Sebab yang mesti dilakukan adalah melakukan counter opini karena saat ini yang terjadi sebetulnya adalah perang opini, bukan semata-mata kekeliruan informasi. Artinya yang harus kita lakukan bukanlah sikap defensif (membela diri) tetapi justru sikap offensif yakni balik melakukan penyerangan opini dan propaganda yang seimbang. Dengan sikap seperti ini kita tidak akan terjebak oleh propaganda orang-orang kafir yang sengaja diciptakan untuk menyudutkan kaum Muslim. Tantangan yang lainnya antara lain adalah adanya upaya kaum kafir untuk menakut-nakuti kaum Muslim. Kekuatan mereka tampak seolah-olah mengepung kaum Muslim sehingga sebagian kaum Muslim ada yang berpikir bahwa mereka tidak mungkin bisa melawan kekuatan kaum kafir. Padahal dalam menghadapi semua itu kaum Muslim selayaknya meneladani Rasulullah dan sahabat tatkala ada orang yang memberitakan kepada mereka bahwa manusia telah berkumpul dan siap menghancurkan mereka. Saat itu Rasul dan sahabat justru mengatakan “Cukuplah Allah Penolong kami. Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (Al Imron : 173)

Wahai kaum Muslim, kita tengah menghadapi tantangan dari musuh-musuh Islam. Kita harus mengenali siapa yang menjadi lawan dan siapa yang menjadi kawan. Sangatlah jelas bahwa diantara musuh kita adalah AS, gembong kekufuran dan konco-konconya. Merekalah yang saat ini membuat berbagai makar untuk menghabisi Islam dan kaum Muslim. Karena itu, kita tidak boleh terjebak dengan skenario global mereka yang bernafsu untuk menghancurkan Islam dan kaum muslim. Karena itu pula kita harus tetap berjuang. Dakwah Islam tidak boleh berhenti dan upaya penegakan syariat Islam tidak boleh kandas. Dengan itu sudah pasti pertolongan Allah akan datang dan Islam akan menjadi satu-satunya ideologi yang menang dalam mengatasi ideologi yang lain. Sebagaimana janji Allah dalam firman-Nya :

“ Orang-orang kafir itu berkehendak memadamkan cahaya agama Allah, tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya agama-Nya meskipun orang-orang kafir itu membencinya”. (at Taubah : 32).

Wallahu musta’an

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: